Home Sport Lewat Sepak Bola, PSSI dan ILO Gaungkan Perlawanan terhadap Pekerja Anak

Lewat Sepak Bola, PSSI dan ILO Gaungkan Perlawanan terhadap Pekerja Anak

Pekerja Anak

0
SHARE
Lewat Sepak Bola, PSSI dan ILO Gaungkan Perlawanan terhadap Pekerja Anak

Keterangan Gambar : Kampanye global Red Card to Child Labour saat laga Garuda Championship Series 2026 antara Indonesia melawan Mozambik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Selasa (9/6).(FOTO Dok. PSSI)

BIZNEWS.ID, JAKARTA - PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) resmi menggandeng International Labour Organization (ILO) Indonesia dan Timor Leste dalam kampanye global Red Card to Child Labour saat laga Garuda Championship Series 2026 antara Indonesia melawan Mozambik di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Selasa (9/6).

Kampanye yang digelar menjelang Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada 12 Juni itu disaksikan hampir 30 ribu penonton. Pesan edukasi ditampilkan melalui layar stadion, diikuti pembacaan manifesto dan aksi maskot Timnas Indonesia, Shakti, yang mengelilingi lapangan sambil membawa spanduk bertuliskan “Red Card to Child Labour”.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan keterlibatan federasi dalam kampanye tersebut merupakan bentuk komitmen nyata untuk mendukung penghapusan pekerja anak.

“Keikutsertaan kami dalam kampanye Red Card to Child Labour merupakan bentuk komitmen nyata PSSI dalam mendukung percepatan penghapusan pekerja anak. Kami berharap gerakan dari lapangan hijau ini mampu memberikan kontribusi besar bagi masa depan anak-anak di Indonesia dan dunia,” ujar Erick  dalam siaran pers PSSI, Jumat (13/6).

Melalui kolaborasi ini, PSSI menjadi federasi sepak bola kelima di dunia yang bergabung dalam gerakan global yang diinisiasi ILO tersebut. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik pekerja anak yang masih ditemukan di sektor pertanian, perikanan, dan sektor informal.

Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste, Simrin Singh, menilai sepak bola dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat luas.

“Sama seperti kartu merah yang mengakhiri pelanggaran di lapangan hijau, kita harus menghentikan praktik pekerja anak di kehidupan nyata. Setiap anak berhak untuk bermain, belajar, tumbuh, dan bebas dari segala bentuk eksploitasi,” kata Simrin.(Dens)