
Keterangan Gambar : Seremoni pembukaan FIFA ASEAN Cup 2026 dirancang sebagai pengalaman sinematik yang membawa penonton menyusuri gagasan tentang ASEAN: beragam identitas, satu semangat, dan mimpi yang sama untuk membawa sepak bola kawasan menuju panggung dunia.(FOTO DEN)
BIZNEWS.ID, JAKARTA - Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, menjadi panggung pembukaan FIFA ASEAN Cup 2026. Tanpa mengandalkan koreografi massal ratusan penari, seremoni pembukaan justru membangun kemegahannya melalui perpaduan musik, tata cahaya, projection mapping, koreografi, dan pertunjukan sejumlah talenta Indonesia serta legenda sepak bola Asia Tenggara.
Sebagai producer, PT Visual Indomedia Produksi (VIP), perusahaan kreatif dan produksi di bawah Emtek Group, mengaku seremoni pembukaan dirancang sebagai pengalaman sinematik yang membawa penonton menyusuri gagasan tentang ASEAN: beragam identitas, satu semangat, dan mimpi yang sama untuk membawa sepak bola kawasan menuju panggung dunia.
Konsep pertunjukan terbagi dalam empat bagian, yakni The Call, Rivalry & Rising, Heartbeat of the Crowd, dan Promise. Keempat babak tersebut dirangkai melalui tiga unsur utama—musik, budaya, dan sepak bola—dengan emosi pertunjukan yang terus meningkat hingga berujung pada perayaan persatuan ASEAN.
Seremoni dibuka dengan kembang api dari atap Stadion GBK. Letupan cahaya di langit Jakarta menjadi penanda dimulainya perayaan. Setelah itu, projection mapping menampilkan tulisan “Welcome to Indonesia”, menyambut negara-negara peserta dan para penonton.
Rangkaian musikal kemudian dibuka melalui The Voice of Nusantara. Bunyi Triton Shell dari Papua menjadi semacam panggilan pertama, disusul Saluang dari Sumatra Barat dan Sape dari Kalimantan. Perkusi tradisional dari berbagai daerah lalu bergabung, membentuk komposisi yang semakin megah.
Pada saat bersamaan, projection mapping membawa penonton menyusuri bentang kepulauan Indonesia sebelum visual bertransformasi menjadi peta ASEAN. Indonesia tampil sebagai tuan rumah yang membuka pintu bagi kawasan.
Energi pertunjukan meningkat ketika Agnez Mo tampil membawakan “Flyin' High”. Lagu tersebut ditempatkan sebagai simbol keberanian untuk bermimpi lebih tinggi dan menembus batas. Visual lapangan berubah menjadi bentangan langit yang dipenuhi burung-burung endemik dari negara-negara ASEAN.
Burung-burung itu bergerak dalam formasi yang saling terhubung. Identitas alam masing-masing negara dipertemukan dalam satu gerak visual, menggambarkan keberagaman yang diarahkan menuju tujuan bersama.
Babak berikutnya menghadirkan Isyana Sarasvati bersama 30 anggota Mercu Buana University Choir. Mereka membawakan “We Will Rock You” dalam aransemen orkestral.
Ritme tepuk tangan dan hentakan kaki mengajak puluhan ribu penonton menjadi bagian dari pertunjukan.
Visual buah-buahan tropis, hasil panen, dan kekayaan alam Asia Tenggara memenuhi lapangan melalui projection mapping. Musik, suara penonton, dan visual stadion berpadu menjadi gambaran tentang kemakmuran dan keberagaman ASEAN.
Seremoni kemudian memasuki Parade of Participating Nations, yang memperkenalkan delapan negara peserta Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026. Perwakilan resmi dari kedutaan masing-masing negara membawa bendera dengan mengenakan busana tradisional. Prosesi tersebut menempatkan identitas budaya dan sportivitas dalam satu panggung.
Bagian lain yang menjadi pusat perhatian adalah video sinematik yang mempertemukan enam legenda sepak bola ASEAN: Ponaryo Astaman dan Kurniawan Dwi Yulianto dari Indonesia, Teeratep Winothai dari Thailand, Stephan Schröck dari Filipina, Safiq Rahim dari Malaysia, serta Baihakki Khaizan dari Singapura.
Video diawali gema suara Fuu dari Papua. Bunyi tradisional itu menjadi simbol panggilan yang mempertemukan para legenda dari negara masing-masing menuju Indonesia.
Cerita di layar kemudian beralih menjadi kenyataan. Keenam legenda muncul dari lorong Stadion GBK dengan membawa trofi FIFA ASEAN Cup 2026. Ponaryo Astaman dan Kurniawan Dwi Yulianto memimpin prosesi, diikuti empat legenda lainnya.
Trofi kemudian dibawa menuju podium seremoni sebagai simbol estafet warisan sepak bola ASEAN. Ponaryo dan Kurniawan menyerahkan trofi kepada FIFA Secretary General Mattias Grafström dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Keduanya mengangkat trofi di hadapan seluruh stadion. Trofi kemudian ditempatkan di podium yang disinari cahaya, menandai dimulainya babak baru kompetisi sepak bola ASEAN.
Seremoni ditutup dengan kembang api yang kembali menerangi langit GBK. Di tengah sorot cahaya dan riuh stadion, pesan pembukaan FIFA ASEAN Cup 2026 menemukan bentuknya: kompetisi bukan sekadar mempertemukan lawan, melainkan juga menjadi ruang bagi negara-negara ASEAN untuk merayakan keberagaman, persahabatan, dan semangat yang menyatukan kawasan.(Dens)




















LEAVE A REPLY