
Keterangan Gambar : Para pecatur muda yang baru mencatatkan prestasi di10th Eastern Asia Youth Chess Championships (EAYCC) 2026 di Hainan, China, dan Malaysia.(FOTO ADI)
BIZNEWS.ID, JAKARTA - Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) memberikan apresiasi kepada para pecatur muda Indonesia yang berhasil mengukir prestasi pada 10th Eastern Asia Youth Chess Championships (EAYCC) 2026 di Hainan, China.
Indonesia mencatatkan torehan sembilan medali dalam kejuaraan tersebut, terdiri atas dua emas, tiga perak, dan empat perunggu. Prestasi itu dinilai menjadi bukti potensi besar pecatur muda Indonesia sekaligus modal penting dalam membangun kekuatan catur nasional di masa mendatang.
Apresiasi diberikan dalam kegiatan yang berlangsung di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Bekasi, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026).
Ketua Dewan Pembina PB Percasi Eka Putra Wirya mengatakan capaian para pecatur muda tersebut menunjukkan Indonesia memiliki talenta yang dapat dikembangkan untuk bersaing di level lebih tinggi.
"Indonesia memiliki talenta yang cukup besar. Tetapi untuk menjadi juara Asia, bahkan juara dunia, perlu hal khusus. Semuanya harus mendukung, semuanya pas," kata Eka.
Dua medali emas Indonesia di Hainan masing-masing dipersembahkan Veronica Jefany Sheryl Kichi Makalew dan Cherisha Davina Wijaya. Veronica menjadi yang terbaik pada nomor catur cepat kelompok G-12, sedangkan Cherisha meraih emas pada nomor catur kilat G-16.
Veronica juga menambah satu medali perunggu pada nomor catur kilat G-12. Cherisha melengkapi koleksinya dengan medali perak pada nomor catur cepat G-16.
Tiga medali perak lainnya diraih Banyu Wening Wiguno pada catur standar B-10 dan Clementia Adeline pada catur cepat G-18. Clementia juga menyumbangkan satu perunggu dari nomor catur kilat G-18.
Dua medali perunggu lainnya diraih Ryu Manson Lieyanto pada catur kilat B-14 dan As Syahsyah Shakish Thirof pada catur kilat B-16.
Eka menilai pencapaian tersebut perlu diikuti dengan pembinaan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan seorang pecatur muda tidak hanya ditentukan kemampuan bermain, tetapi juga lingkungan yang mendukung proses latihan dan kompetisi.
"Mereka harus konsentrasi benar. Semuanya harus perfect untuk menjadi pemain dunia. Harus dari kemauan sendiri," ujarnya.
PB Percasi juga menyoroti pentingnya memperbanyak turnamen catur standar atau klasik di Indonesia. Kompetisi dengan format tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman bertanding yang lebih kuat kepada pecatur muda sekaligus membantu meningkatkan kualitas permainan.
"Karena itu, PB Percasi terus mendorong kolaborasi dengan dunia usaha untuk menghadirkan lebih banyak turnamen standar," kata Eka.
Wakil Ketua Umum III PB Percasi Prof. Khairul Munadi mengatakan pembinaan pecatur harus terhubung dengan ekosistem pendidikan sejak usia dini. Jalur dari sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi dinilai dapat memberikan kesinambungan bagi talenta yang ditemukan.
"Intinya bagaimana kita menghubungkan ekosistem catur mulai di pendidikan dasar dan menengah juga dengan pendidikan tinggi," ujar Khairul.
Apresiasi terhadap prestasi di Hainan juga menjadi bagian dari upaya PB Percasi menjaga kesinambungan regenerasi. Para pecatur muda tersebut diharapkan tidak berhenti pada prestasi tingkat junior, tetapi dapat berkembang hingga menembus persaingan senior dan menjadi kekuatan Indonesia di level Asia maupun dunia.
Prestasi di Hainan juga datang bersamaan dengan keberhasilan tim Indonesia menjuarai SMS Deen Merdeka Open Rapid Team Chess Championship 2026 di Malaysia. Tim tersebut diperkuat IM Satria Duta Cahaya, IM Arif Abdul Hafiz, IM Nayaka Budhidharma, dan IM Gilbert Elroy Tarigan.
Rangkaian prestasi tersebut menjadi momentum bagi PB Percasi untuk memperkuat pembinaan sekaligus mempersiapkan regenerasi pecatur nasional menjelang Olimpiade Catur Dunia ke-46 di Samarkand, Uzbekistan, 15-29 September 2026.(Dens)







.jpg)












LEAVE A REPLY